Minggu, 09 Maret 2008

Perkembangan SMA Terbuka

Perkembangan Sekolah Menengah Atas Terbuka (SMA Terbuka)

selama 4 Tahun Masa Perintisan

Sudirman Siahaan*)

Abstrak

Mengapa perlu diselenggarakan Sekolah Menengah tingkat Atas Terbuka (SMA Terbuka)? Apakah SMA reguler yang ada belum mencukupi untuk mengakomodasikan lulusan SMP dan MTs setiap tahunnya? Kalaupun seandainya secara matematis, jumlah SMA reguler yang ada dapat meng-akomodasikan jumlah lulusan SMP dan MTs, apakah semua SMA reguler tersebut dapat diakses oleh para lulusan SMP dan MTs yang tersebar di berbagai pelosok tanah air, baik dari segi jarak (geografis), ketersediaan sarana transportasi, maupun kemampuan finansial masyarakat? Dalam kaitan ini, data Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (Balitbang-Depdiknas, 2000) mengemukakan bahwa pada tahun ajaran 1999/2000 terdapat jumlah lulusan SMP/MTs sebanyak 2,66 juta orang dan yang melanjutkan pendidikannya berjumlah 1,78 juta orang (66,9%). Pada tahun yang sama, jumlah peserta didik putus sekolah pada pendidikan sekolah menengah berjumlah 243.100 peserta didik dari 5,6 juta peserta didik (9,03%). Apabila data ini dapat dianggap sebagai keadaan rata-rata setiap tahun, maka akan terjadi akumulasi yang semakin besar dari tahun ke tahun mengenai jumlah peserta didik putus sekolah dan peserta didik yang tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah; terlebih lagi jika tidak dilakukan intervensi. Menghadapi keadaan yang demikian ini, dibutuhkan suatu model/sistem pendidikan inovatif dan fleksibel yang dapat mengatasi berbagai keterbatasan yang ada. Dalam kaitan ini, SMA Terbuka sebagai sebuah model/sistem pendidikan inovatif dan fleksibel telah dirintis di 7 lokasi di 6 provinsi sejak tahun 2001/2002. Berbagai aspek tentang model/sistem pendidikan SMA Terbuka akan dibahas di dalam tulisan ini.

Kata Kunci: SMA Terbuka, belajar mandiri, tutorrial tatap muka.

--------------

*) Sudirman Siahaan adalah tenaga peneliti bidang pendidikan pada Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional.


A. Pendahuluan

Berbagai kendala/keterbatasan yang menyebabkan para lulusan SMP/MTs tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan sekolah menengah antara lain adalah karena kemampuan finansial orangtua, fungsi anak sebagai tenaga kerja untuk keluarga (waktu), kondisi geografis yang sulit bagi peserta didik untuk secara teratur datang setiap hari ke SMA reguler, dan ketersediaan sarana transportasi umum untuk digunakan peserta didik datang dan pulang dari SMA reguler yang ada. Faktor ekonomi atau kemampuan finansial orangtualah yang merupakan faktor utama yang mengakibatkan lulusan SMP/MTs tidak seluruhnya dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan sekolah menengah reguler. Faktor ekonomi juga yang menyebabkan sebagian peserta didik SMA/MA terpaksa harus putus sekolah. Artinya, para peserta didik ini pada umumnya harus melakukan pekerjaan mencari nafkah membantu keluarga pada saat-saat yang bersamaan dengan waktu-waktu belajar di sekolah reguler (dari pagi hingga siang hari).

Berkaitan dengan jumlah lulusan SMP dan MTs yang tidak melanjutkan pendidikan di satu sisi dan jumlah peserta didik putus sekolah di sekolah menengah di sisi lain, data Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)-Departemen Pendidikan Nasional Tahun 1988/1999 (Balitbang-Depdiknas, 1999) menunjukkan bahwa hanya 1,78 juta peserta didik dari sekitar 2,66 juta lulusan SMP dan MTs (66,9%) yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan sekolah menengah. Atau, sekitar 33,1% lulusan SMP dan MTs yang tidak melanjutkan pendidikan. Pada tahun yang sama, jumlah peserta didik putus sekolah pada pendidikan sekolah menengah sebanyak 243.100 peserta didik dari 5.610.000 jumlah peserta didik keseluruhan (9,03%). Apabila jumlah lulusan SMP dan MTs yang tidak melanjutkan pendidikan dan peserta didik putus sekolah pada jenjang pendidikan sekolah menengah digabungkan, maka jumlah peserta didik usia sekolah menengah yang tidak mengikuti/ menyelesaikan pendidikan sekolah menengah adalah 1.125.000 peserta didik.

Memperhatikan jumlah peserta didik putus sekolah di SMA dan jumlah lulusan SMP dan MTs yang tidak melanjutkan pendidikan yang jumlahnya cukup besar ini, maka Pustekkom melaksanakan studi atau analisis kebutuhan (needs assessment) akan pendidikan SMA Terbuka. Mengapa SMA Terbuka? Karena SMA Terbuka merupakan model pendidikan SMA yang dinilai inovatif dan fleksibel yang tidak menuntut peserta didik harus hadir setiap hari ke SMA tetapi mereka cukup belajar mandiri di Tempat Kegiatan Belajar (TKB). Yang dijadikan sebagai TKB dapat berupa gedung sekolah yang tidak digunakan pada sore hari, pondok pesantren, tempat kerja, balai desa, atau tempat lainnya yang relatif dekat ke tempat tinggal sekelompok peserta didik.

Hasil studi atau analisis kebutuhan akan pendidikan SMA Terbuka yang telah dilaksanakan Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) mengungkapkan bahwa provinsi yang memiliki angka prosentase yang tinggi tentang jumlah lulusan SMP dan MTs yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan sekolah menengah adalah: Jawa Barat (43,99%), Jawa Tengah (46,49%), Nusa Tenggara Timur (53,77%), Sumatera Barat (20,16%), dan Sulawesi Selatan (23%) (Pustekkom, 1999).

Sekalipun di antara para lulusan SMP dan MTs dan peserta didik putus sekolah di SMA masih memiliki minat dan motivasi yang besar untuk melanjutkan atau menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah, tetapi yang menjadi masalah adalah model pendidikan sekolah menengah yang bagaimana yang dapat mengakomodasikan mereka sehingga mereka dapat bekerja sekaligus juga sekolah. Sampai dengan tahun 2001/2002, model pendidikan yang tersedia di luar pendidikan sekolah adalah model Ujian Persamaan (Upers). Dalam kaitan inilah, Pustekkom mengembangkan suatu model pendidikan alternatif yang inovatif dan fleksibel yang memungkinkan diikuti oleh para lulusan SMP/MTs dan peserta didik putus sekolah sambil bekerja membantu orangtua mencari nafkah, yaitu model/sistem pendidikan SMA Terbuka.

Selanjutnya, merujuk pada Statistik Pendidikan Sekolah yang dipublikasikan oleh Balitbang-Depdiknas dan didukung oleh hasil analisis kebutuhan akan pendidikan SMA Terbuka yang telah dilaksanakan oleh Pustekkom, maka Pustekkom melakukan studi kelayakan lokasi perintisan SMA Terbuka. Dari hasil studi kelayakan ini ditetapkanlah tujuh lokasi yang tersebar di 6 provinsi yang dinilai layak dijadikan sebagai perintisan penyelenggaraan model/sistem SMA Terbuka dan didukung oleh Dinas Pendidikan setempat. Ketujuh lokasi yang dimaksudkan adalah: (1) Kabupaten Bogor-Jawa Barat, (2) Kabupaten Pemalang-Jawa Tengah, (3) Kota Surabaya dan (4) Kabupaten Malang di Jawa Timur, (5) Kabupaten Bengkalis-Riau, (6) Kota Samarinda-Kalimantan Timur, dan (7) Kabupaten Pangkep-Sulawesi Selatan (Siahaan dan Christanto, 2000).

Sebagai tindak lanjut dari hasil studi kelayakan tersebut di atas, maka sejak tahun 2001 dilakukanlah berbagai kegiatan persiapan untuk memulai perintisan penyelenggaraan SMA Terbuka. Setelah para pengelola di masing-masing lokasi mendapat pelatihan sehingga memiliki kesiapan untuk mengelola SMA Terbuka, bahan-bahan belajar yang akan digunakan sudah tersedia, dan berbagai pedoman atau petunjuk pelaksanaan pengelolaan SMA Terbuka juga sudah tersedia, maka pada tahun 2002/2003 dimulailah kegiatan perintisan penyelenggaraan pendidikan SMA Terbuka.

Sejauh mana perkembangan penyelenggaraan pendidikan SMA Terbuka sejak dimulainya kegiatan perintisan akan menjadi fokus pembahasan di dalam tulisan ini. Selain itu, berbagai aspek tentang sistem/model pendidikan SMA Terbuka akan diuraikan, yaitu antara lain: konsep model/sistem pendidikan SMA Terbuka, rasional penyelenggaraan sistem/model pendidikan SMA Terbuka, pengalaman selama masa perintisan sistem/model pendidikan SMA Terbuka, dan diakhiri dengan kesimpulan dan saran.

B. Kajian Pustaka dan Bahasan

1. Konsep Model/Sistem Pendidikan SMA Terbuka

SMA Terbuka adalah subsistem pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan kegiatan belajar mandiri para peserta didiknya dengan bimbingan terbatas dari orang lain. SMA Terbuka merupakan salah satu model layanan pendidikan alternatif jalur sekolah tingkat menengah yang diselenggarakan oleh SMA reguler. SMA Terbuka bukanlah lembaga atau UPT baru yang berdiri sendiri, melainkan menginduk pada SMA reguler yang telah ada. Dengan demikian, SMA reguler yang menjadi Sekolah Induk SMA Terbuka menyelenggarakan pendidikan dengan dual mode system (tugas ganda). Artinya, Sekolah Induk SMA Terbuka sekaligus melayani dua kelompok peserta didik yang berbeda, dengan cara belajar yang berbeda. Dalam hal ini, Sekolah Induk SMA Terbuka diberi perluasan atau tambahan peran, yaitu berupa layanan pendidikan dengan sistem belajar jarak jauh yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki kendala tertentu. (Pustekkom, 2005).

Dari informasi tersebut di atas dapatlah dirumuskan bahwa model/sistem pendidikan SMA Terbuka adalah model/sistem pendidikan SMA yang sebagian besar kegiatan pembelajaran-nya dilaksanakan secara mandiri dengan menggunakan bahan-bahan belajar yang dapat dipelajari peserta didik secara mandiri tanpa atau dengan seminimal mungkin bantuan orang lain. Karena itulah, para peserta didik SMA Terbuka setiap harinya belajar mandiri di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) di bawah supervisi Guru Pamong, baik secara individual maupun dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Guru Pamong tidak bertugas mengajar karena memang mereka bukanlah orang yang berkualifikasi mengajar di SMA.

Belajar mandiri tidak hanya terbatas di TKB yang sudah ditunjuk tetapi peserta didik dapat saja melakukannya di tempat lain sesuai dengan ketersediaan waktu luang mereka, seperti di rumah atau di tempat kerja. Belajar mandiri di mana saja dimungkinkan karena bahan-bahan belajar yang dikembangkan untuk peserta didik SMA Terbuka adalah bahan-bahan belajar cetak (modul) yang dapat dipelajari peserta didik secara mandiri. Pada umumnya, setiap peserta didik mendapatkan satu modul. Apabila karena satu dan lain hal, dapat saja terjadi bahwa satu modul dipelajari oleh dua orang peserta didik. Dalam keadaan yang demikian ini dibutuhkan pembagian waktu antara kedua orang peserta didik yang bersangkutan agar dapat mempelajari modul secara bergantian.

Konsepsi dasar yang melandasi pengertian/batasan SMA Terbuka sebagaimana yang telah dikemukakan di atas adalah bahwa:

a. belajar pada prinsipnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi seseorang dengan sumber-sumber belajar, baik yang dirancang secara khusus maupun melalui pemanfaatan sumber-sumber belajar yang tersedia;

b. kegiatan belajar dapat terjadi di mana dan kapan saja, serta tidak sepenuhnya hanya tergantung pada guru dan gedung sekolah;

c. kegiatan belajar-mengajar akan mencapai tujuannya apabila berpusat pada peserta didik dan melibatkan peserta didik secara aktif;

d. penggunaan media pembelajaran yang dirancang secara benar dan tepat akan dapat memberi hasil belajar yang maksimal sesuai dengan karakteristik media itu sendiri; dan

e. peserta didik pada prinsipnya mempunyai kemungkinan yang sama untuk berhasil dalam belajarnya apabila diberikan kesempatan dan perlakuan yang sesuai dengan karakteristiknya (Pustekkom-Depdiknas, 1999).

2. Karakteristik Model/Sistem Pendidikan SMA Terbuka

Mengingat model/sistem pendidikan SMA Terbuka adalah bagian (subsistem) dari pendidikan SMA reguler, maka peserta didik SMA Terbuka adalah juga peserta didik dari SMA reguler yang ditunjuk sebagai Sekolah Induk SMA Terbuka. SMA Terbuka merupakan pola pendidikan yang menerapkan sistem belajar jarak jauh pada jenjang pendidikan menengah yang kegiatan pembelajarannya dilaksanakan secara fleksibel melalui penerapan prinsip-prinsip belajar mandiri. Pada hakekatnya, SMA Terbuka sama dan sederajat dengan SMA reguler/konvensional. Perbedaannya hanya terletak pada aspek pembelajarannya di mana para peserta didik SMA Terbuka belajar secara mandiri tanpa atau dengan seminimal mungkin bantuan orang lain, baik secara perseorangan maupun dalam kelompok kecil. (Pustekkom-Depdiknas, 2000).

Berdasarkan konsep tentang SMA Terbuka sebagaimana yang dikemukakan pada dokumen Pustekkom (Pustekkom-Depdiknas, 2000), maka karakteristik pendidikan SMA Terbuka dapat dilihat dari aspek tujuan, peserta didik, bahan belajar, strategi pembelajaran, evaluasi, dan sertifikasinya.

a. Tujuan Penyelenggaraan SMA Terbuka

Sebagai subsistem dari pendidikan SMA reguler, tujuan penyelenggaraan SMA Terbuka adalah sama dengan tujuan pendidikan menengah sebagaimana yang dirumuskan di dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0489/U/1992 yaitu: (a) meningkatkan pengetahuan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kesenian; dan (b) meningkatkan kemampuan (keterampilan hidup) peserta didik sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar.

b. Peserta didik

Peserta didik SMA Terbuka adalah lulusan SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau yang sederajat maupun peserta didik putus sekolah pada jenjang pendidikan menengah dengan rentangan usia antara 15-18 tahun. Dengan demikian, tidak ada perbedaan mengenai peserta didik yang diterima di SMA Terbuka dengan peserta didik yang diterima di SMA reguler/ konvensional. Perbedaan barulah tampak sewaktu para peserta didik belajar di SMA Terbuka, di mana sebagian besar kegiatan belajar mereka dilakukan secara mandiri, baik di TKB, di rumah atau di tempat lainnya.

c. Bahan Belajar dan Kegiatan Pembelajaran

Bahan belajar yang digunakan para peserta didik SMA Terbuka berbeda dengan yang digunakan di SMA reguler sekalipun acuan yang digunakan untuk pengembangan bahan belajarnya adalah sama, yaitu kurikulum SMA yang berlaku. Bahan belajar yang digunakan para peserta didik SMA Terbuka adalah bahan belajar mandiri cetak yang disebut modul (bahan belajar utama) dan bahan belajar dalam bentuk media lainnya (penunjang). Sekalipun demikian, tidaklah berarti bahwa peserta didik SMA Terbuka tidak boleh mempelajari bahan belajar yang digunakan oleh rekannya di SMA reguler atau sebaliknya.

Bahan belajar yang digunakan peserta didik SMA Terbuka memang dirancang secara khusus agar dapat dipelajari secara mandiri, baik secara individual maupun dalam kelompok-kelompok kecil oleh para peserta didik. Dikatakan secara khusus karena dengan mempelajari modul, para peserta didik dikondisikan seolah-olah berinteraksi dengan guru. Bahasa yang digunakan di dalam modul adalah bahasa yang komunikatif, mudah dipahami, dan memungkinkan para peserta didik untuk mengevaluasi diri sendiri, baik melalui umpan balik segera (immediate feedbacks) maupun kunci jawaban soal-soal latihan/tugas yang tersedia di dalam modul.

Peserta didik SMA Terbuka tidak dituntut untuk datang setiap hari ke SMA reguler yang ditentukan tetapi mereka hanya datang belajar setiap sore (pukul 14.00 sd. 17.00) selama 5 hari setiap minggunya di TKB di bawah supervisi Guru Pamong. TKB merupakan suatu tempat yang memungkinkan digunakan peserta didik secara teratur untuk belajar. Tempat yang dijadikan sebagai TKB adalah sebuah tempat yang dapat mengakomodasikan satu rombongan belajar yang jumlahnya berkisar antara 5-20 orang peserta didik. TKB dapat berupa gedung SD, gedung SMP, Balai Desa, pondok pesantren atau tempat pertemuan lainnya yang ada dan yang relatif terjangkau oleh semua peserta didik yang tergabung ke dalam satu rombongan belajar.

Sebagian dari tugas Guru Pamong adalah memotivasi dan menertibkan peserta didik belajar, mengarahkan peserta didik untuk berdiskusi atau belajar kelompok, memantau perkembangan kegiatan belajar masing-masing peserta didik, dan mencatat berbagai kesulitan peserta didik (baik yang sifatnya substansial maupun pribadi) selama belajar di TKB. Catatan tentang berbagai kesulitan peserta didik ini dilaporkan Guru Pamong secara tertulis kepada Guru Bina yang ada di Sekolah Induk untuk dibahas selama kegiatan tutorial tatap muka. Guru Pamong memang direkrut bukan untuk mengajar tetapi hanya sebatas untuk mengorganisasikan kegiatan belajar peserta didik di TKB.

Pada umumnya, setiap peserta didik SMA Terbuka mendapatkan satu modul dan dapat dibawa pulang sehingga memungkinkan mereka untuk mempelajarinya di rumah atau di tempat kerja. Peserta didik yang belajar mandiri dengan menggunakan bahan belajar mandiri yang berupa modul memungkinkan masing-masing peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya (pace of learning). Dengan demikian, di dalam satu rombongan belajar dapat saja terjadi bahwa beberapa peserta didik mempelajari modul yang berbeda karena diakibatkan berbedanya kecepatan belajar mereka masing-masing.

Kegiatan belajar tutorial tatap muka biasanya dilaksanakan pada hari Sabtu atau hari libur di Sekolah Induk. Pada umumnya, untuk setiap mata pelajaran, minimal mendapat alokasi tutorial selama 2 x 45 menit per bulan. Sedangkan untuk mata pelajaran yang sukar seperti bahasa Inggris, matematika, fisika, dan mata pelajaran yang penting seperti bahasa Indonesia, dalam sebulan minimal mendapat alokasi waktu tutorial 3 x 45 menit per bulan. Namun apabila SMA Terbuka tertentu menganut pola tutorial dua hari dalam seminggu, maka jumlah alokasi waktu tutorial untuk mata pelajaran yang sulit/penting minimal 4 x 45 menit dalam sebulan (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).

Untuk mengikuti kegiatan belajar tutorial tatap muka ini, para peserta didiklah yang datang ke Sekolah Induk. Mengapa kegiatan tutorial tatap muka diselenggarakan di Sekolah Induk? Dengan kehadiran peserta didik di Sekolah Induk, maka berbagai fasilitas yang tersedia/dimiliki oleh Sekolah Induk dapat dimanfaatkan oleh para peserta didik SMA Terbuka sewaktu mereka datang ke Sekolah Induk. Dalam kegiatan tutorial tatap muka, Guru Bina dapat memanfaatkan modul, buku-buku lain yang relevan, media audio, media video, laboratorium, perpustakaan, dan lingkungan sekitar yang ada di Sekolah Induk (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).

Apabila berdasarkan berbagai pertimbangan, kegiatan tutorial tatap muka dapat saja dilaksanakan di luar Sekolah Induk, misalnya di salah satu gedung Sekolah Dasar yang terdekat dengan tempat tinggal mayoritas peserta didik. Apabila keadaannya demikian ini, maka Guru Binalah yang datang menjumpai peserta didik untuk menyelenggarakan kegiatan belajar tutorial tatap muka.

d. Evaluasi dan Sertifikasi

Evaluasi yang dilaksanakan di SMA reguler diberlakukan juga di SMA Terbuka. Jika peserta didik SMA reguler mengikuti UAS, maka UAS juga dilaksanakan bagi peserta didik SMA Terbuka. Demikian juga dengan UAN, para peserta didik SMA Terbuka tidak terkecuali, mereka mengikuti UAN. Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan di SMA Terbuka yang setara dengan yang dilaksanakan di SMA reguler adalah sebagai berikut:

1) Tes Akhir Modul (TAM) setara dengan tes formatif atau ulangan harian pada SMA reguler.

2) Tes Akhir Unit setara dengan tes tengah semester (mid semester test) pada SMA reguler.

3) Tes Akhir Semester, yang dilaksanakan pada setiap akhir semester adalah sama dengan ulangan umum pada SMA reguler. Tujuannya adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik setelah mempelajari sejumlah modul selama satu semester.

4) Ujian akhir merupakan ujian yang diselenggarakan untuk peserta didik SMA Terbuka Kelas III pada akhir tahun ajaran yang pelaksanaannya mengikuti ketentuan yang berlaku di SMA Penyelenggara.

Sertifikasi yang diterima oleh para peserta didik SMA reguler yang telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMA adalah sama dengan yang diberikan kepada peserta didik SMA Terbuka.

3. Rasional Penyelenggaraan Model/Sistem Pendidikan SMA Terbuka

Setidak-tidaknya ada 2 (dua) alasan utama di samping alasan yang bersifat angka-angka yang menjadi dasar pertimbangan dilakukannya perintisan model/sistem pendidikan SMA Terbuka, yaitu dari sisi (a) calon peserta didik SMA Terbuka dengan berbagai permasalahannya dan (b) fleksibilitas penyelenggaraan model/sistem pendidikan SMA Terbuka.

a. Calon Peserta Didik SMA Terbuka (Anak Usia Sekolah Menengah)

Pada umumnya, SMA reguler berada di ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota serta di beberapa ibukota kecamatan. Sedangkan Sekolah Menengah tingkat Pertama (SMP) reguler tidak hanya berada di daerah perkotaan tetapi juga sudah sampai ke tingkat kecamatan. Untuk mengakomodasikan jumlah lulusan SMP/MTs atau yang sederajat yang jumlahnya terus meningkat di samping jumlah peserta didik SMA yang putus sekolah, diperlukan satu model/sistem pendidikan SMA yang inovatif dan fleksibel.

Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa beberapa faktor penyebab peserta didik lulusan SMP/MTs tidak melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah adalah karena kemampuan finansial orangtua yang terbatas. Untuk menyekolahkan anak ke SMA menuntut biaya tinggi karena lokasi SMA yang relatif jauh dari tempat tinggal, kondisi geografis yang sulit, lokasi SMA yang pada umumnya terdapat di ibukota Kabupaten/Kota, tuntutan terhadap anak agar membantu orangtua bekerja mencari nafkah, dan ketersediaan sarana mobilitas yang dapat dimanfaatkan peserta didik untuk berangkat dan pulang dari SMA reguler.

Mengingat cukup besar jumlah anak usia sekolah menengah yang cenderung berfungsi sebagai tenaga kerja membantu orangtua mencari nafkah mengakibatkan anak-anak tidak memungkinkan untuk datang belajar setiap hari di SMA reguler yang ada. Anak-anak pada umumnya bekerja membantu orangtua mereka dari pagi hingga siang hari yaitu pada saat yang bersamaan waktunya dengan jam-jam belajar di SMA reguler. Tuntutan untuk bekerja membantu orangtua mencari nafkah di satu sisi dan keinginan/ motivasi untuk tetap dapat melanjutkan pendidikan ke SMA di sisi lain mengakibatkan anak-anak dan orangtua merespon secara positif perintisan penyelenggaraan pendidikan di SMA Terbuka.

Salah satu karakteristik model/sistem pendidikan SMA Terbuka adalah bahwa para peserta didik pada umumnya berusia antara 15-18 tahun yang sebagian besar kegiatan belajarnya dilaksanakan dalam bentuk belajar mandiri di TKB maupun di tempat lainnya dengan menggunakan bahan belajar yang berupa modul dan media lainnya. Tempat yang dijadikan sebagai TKB dipilih yang paling strategis dalam arti relatif dekat atau dapat dengan mudah diakses oleh para peserta didik. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan peserta didik untuk datang ke TKB menjadi relatif lebih kecil dibandingkan apabila peserta didik harus datang belajar setiap hari ke SMA. reguler Peserta didik juga tidak perlu harus “indekos” di ibukota Kabupaten/kota agar dapat melanjutkan pendidikannya ke SMA tetapi peserta didik hanya dituntut sekali atau dua kali seminggu datang ke salah satu SMA reguler yang telah ditunjuk sebagai Sekolah Induk SMA Terbuka.

b. Fleksibilitas model pendidikan SMA Terbuka

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa peserta didik SMA Terbuka tidak perlu setiap hari harus datang ke SMA reguler yang lokasinya relatif jauh tetapi mereka cukup datang ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB) yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal mereka. SMA Terbuka dikatakan fleksibel karena dapat dibuka atau ditutup sesuai dengan perkembangan tuntutan kebutuhan masyarakat akan pendidikan SMA.

Secara singkat dapatlah dikatakan bahwa SMA Terbuka dapat dibuka di suatu daerah apabila dinilai bahwa di daerah tersebut masih banyak jumlah lulusan SMP/MTs yang tidak melanjutkan pendidikannya ke SMA dan demikian juga dengan jumlah peserta didik putus sekolah di Sekolah Menengah. Apabila kemudian, karena satu dan lain hal, jumlah lulusan SMP/MTs sudah terakomodasikan melalui SMA/MA yang ada, maka SMA Terbuka dapat ditutup tanpa harus menghadapi banyak benturan, baik yang sifatnya berupa perangkat peraturan perundang-undangan maupun yang sifatnya berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja.

Salah satu prinsip SMA Terbuka adalah mengoptimalkan pendayagunaan berbagai sumber daya yang ada di masyarakat termasuk tenaga gurunya. Guru mata pelajaran (Guru Bina) yang terdapat di SMA reguler yang dijadikan sebagai Sekolah Induk SMA Terbuka dioptimalkan untuk membantu penyelenggaraan SMA Terbuka dengan hanya memberikan honorarium tambahan. Demikian juga halnya dengan Guru Pamong dan tenaga penunjang lainnya ditempuh dengan cara mengoptimalkan tenaga yang tersedia di masyarakat. Melalui prinsip yang demikian ini, maka biaya pengelolaan SMA Terbuka dapat diminimalisasi.

Sarana/prasarana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di SMA Terbuka juga tidak diadakan atau dibangun tersendiri tetapi cukup dengan meng-optimalkan pendayagunaan berbagai sarana/prasarana yang tersedia di masyarakat, seperti: gedung SD atau SMP, Balai Desa, atau bangunan lainnya yang tidak digunakan pada sore hari. Sedangkan sarana/pasarana yang berupa gedung SMA yang ditunjuk sebagai Sekolah Induk SMA Terbuka dan berbagai fasilitas yang dimilikinya dapat dioptimalkan juga pemanfataannya oleh para peserta didik SMA Terbuka minimal sewaktu mengikuti kegiatan tutorial tatap muka.

4. Pengalaman selama Masa Perintisan Model/Sistem Pendidikan SMA Terbuka

Sebelum sesuatu model atau sistem pembelajaran tertentu diterapkan secara massal, dituntut terlebih dahulu adanya suatu bentuk penerapan dalam skala kecil atau yang biasanya disebut sebagai perintisan (pilot project atau small-scale implementation). Demikian juga halnya dengan model/sistem pendidikan SMA Terbuka. Esensi dari pelaksanaan perintisan ini adalah untuk mengujicobakan penyelenggaraan model/sistem pendidikan SMA Terbuka dan melakukan berbagai perbaikan atau penyempurnaan terhadap berbagai komponen sistemnya. Setelah kegiatan perintisan berlangsung dalam kurun waktu tertentu atau setelah masa perintisan berakhir, maka perlu dilakukan evaluasi sebelum disebarluaskan ke berbagai daerah lainnya sesuai dengan tuntutan kebutuhan akan pendidikan SMA.

a. Peserta Didik

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa kegiatan perintisan penyelenggaraan model/sistem pendidikan SMA Terbuka telah dilaksanakan di tujuh lokasi semenjak tahun 2002/2003. Artinya bahwa masa perintisan penyelenggaraan model/sistem pendidikan SMA Terbuka telah berlangsung selama tiga tahun lebih dan telah meluluskan peserta didik angkatan pertama. Karena itu, pembahasan selanjutnya akan berfokus pada perkembangan peserta didik SMA Terbuka sejak tahun pertama sampai dengan tahun keempat masa perintisan, tingkat atau prosentase kelulusan peserta didik SMA Terbuka dan berbagai kegiatan lain yang telah dilaksanakan.

Namun sebelumnya, akan disajikan informasi sekilas sebagai gambaran kasar tentang keadaan peserta didik kelas I, II, dan II SMA Terbuka di 7 lokasi perintisan pada tahun ketiga masa perintisan (tahun ajaran 2004/2005) sebagaimana yang tampak pada Tabel 1 di bawah ini.


Tabel 1

Perkembangan Keadaan Peserta didik SMA Terbuka pada Tahun Ajaran 2004/2005

NO

NAMA SMA TERBUKA

JUMLAH PESERTA DIDIK

TOTAL

KLS I

KLS II

KLS III

1.

SMA Terbuka Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jabar

335

149

119

603

2.

SMA Terbuka Moga, Pemalang, Jateng

201

97

115

413

3.

SMA Terbuka Surabaya, Kota Surabaya, Jatim

120

128

85

333

4.

SMA Terbuka Kepanjen, Kabupaten Malang, Jatim

99

51

41

191

5.

SMA Terbuka Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau

18

11

30

83

6.

SMA Terbuka Samarinda, Kota Samarinda, Kaltim

80

63

63

206

7.

SMA Terbuka Bungaro, Kabupaten Pangkep, Sulsel

158

224

199

581

JUMLAH

1.028

721

660

2.404

Sumber: Pustekkom. 2005. Bahan Temu Karya SMA Terbuka.

Dari Tabel 1 tersebut di atas, ternyata ada 4 kecenderungan yang terjadi mengenai perkembangan keadaan peserta didik SMA Terbuka, yaitu:

1) kecenderungan jumlah peserta didik yang menurun dari tahun ke tahun sebagaimana yang terjadi di SMA Terbuka Leuwiliang-Bogor, Jawa Barat dan SMA Terbuka Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur;

2) kecenderungan turun pada tahun kedua dan kemudian meningkat pada tahun berikutnya, sebagaimana yang terjadi di SMA Terbuka Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, SMA Terbuka Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau;

3) kecenderungan meningkat pada tahun kedua tetapi menurun pada tahun ketiga sebagaimana yang terjadi di SMA Terbuka Bungaro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dan SMA Terbuka Surabaya, Kota Surabaya, Jawa Timur; dan

4) kecenderungan turun pada tahun kedua dan tetap pada tahun berikutnya sebagaimana yang terjadi di SMA Terbuka Samarinda, propinsi Kalimantan Timur.

Selanjutnya, keadaan peserta didik kelas I, II, dan III SMA Terbuka pada tahun ajaran yang sedang berlangsung sekarang ini (tahun ajaran 2005/2006) dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2

Perkembangan Keadaan Peserta didik SMA Terbuka pada Tahun Ajaran 2005/2006

NO

NAMA SMA TERBUKA

JUMLAH PESERTA DIDIK

TOTAL

KLS I

KLS II

KLS III

1.

SMA Terbuka Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jabar

285

275

95

655

2.

SMA Terbuka Moga, Pemalang, Jateng

194

165

93

452

3.

SMA Terbuka Surabaya, Kota Surabaya, Jatim

85

108

87

280

4.

SMA Terbuka Kepanjen, Kabupaten Malang, Jatim

101

78

41

220

5.

SMA Terbuka Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau

49

15

14

78

6.

SMA Terbuka Samarinda, Kota Samarinda, Kaltim

55

51

48

154

7.

SMA Terbuka Bungaro, Kabupaten Pangkep, Sulsel

158

224

185

567

JUMLAH

1.028

721

660

2.404


Sumber: Pustekkom. 2005. Bahan Temu Karya SMA Terbuka.

Dari data yang diperlihatkan pada Tabel 2 tersebut di atas, ada beberapa hal yang dapat dikemukakan, yaitu:

1) terjadi kecenderungan jumlah peserta didik yang menurun pada kelas II dan III sebagaimana yang terjadi di SMA Terbuka Leuwiliang-Bogor, Jawa Barat dan demikian juga di SMA Terbuka Moga-Pemalang, Jawa Tengah, SMA Terbuka Kepanjen-Malang, Jawa Timur, dan SMA Terbuka Samarinda, Kalimantan Timur; dan

2) terjadi kecenderungan jumlah peserta didik yang menaik pada kelas II tetapi menurun di kelas III sebagaimana yang terjadi di SMA Terbuka Surabaya, Jawa Timur dan SMA Terbuka Bungaro-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kemudian, Tabel 3 berikut ini akan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang perkembangan keadaan peserta didik SMA Terbuka selama 4 tahun di 7 lokasi perintisan. Diharapkan akan dapat diketahui secara rinci tentang pasang-surutnya perkembangan peserta didik SMA Terbuka dan sekaligus juga akan diuraikan tentang tingkat putus sekolah pada SMA Terbuka semenjak tahun pertama perintisan.

Sebenarnya, pendidikan terbuka/jarak jauh tidak mengenal istilah putus sekolah karena setiap peserta didik belajar sesuai dengan tingkat kecepatan atau kemampuan belajar (learning pace) masing-masing. Namun mengingat SMA Terbuka memiliki syarat-syarat yang sama dengan SMA reguler (tatap muka) kecuali strategi pembelajarannya, maka masalah putus sekolah yang terjadi di SMA reguler terjadi juga di SMA Terbuka.

Untuk mengetahui perkembangan keadaan masalah putus sekolah ini, maka Tabel 3 di bawah ini menyajikan data tentang jumlah peserta didik SMA Terbuka dari tahun ke tahun di 7 lokasi perintisan.

Tabel 3

Perkembangan Keadaan Peserta didik SMA Terbuka selam 4 Tahun Masa Perintisan

(2002/2003-2005/2006)

NO

NAMA SMA TERBUKA DAN KELAS

JUMLAH PESERTA DIDIK

2002/03

2003/04

2004/05

2005/06

1.

SMA Terbuka Leuwiliang,

Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Kelas I

156

175

335

285

Kelas II

---

153

149

275

Kelas III

---

---

119

95

Jumlah

156

328

603

655






2.

SMA Terbuka Moga,

Kabupaten Pemalang, Jateng

Kelas I

163

117

223

194

Kelas II

---

124

97

165

Kelas III

---

---

106

93

Jumlah

163

241

426

452






3.

SMA Terbuka Surabaya,

Kota Surabaya, Jawa Timur

Kelas I

127

120

120

85

Kelas II

---

113

102

108

Kelas III

---

---

73

87

Jumlah

127

233

295

280






4.

SMA Terbuka Kepanjen,

Kabupaten Malang, Jawa

Timur

Kelas I

60

55

78

101

Kelas II

---

41

43

78

Kelas III

---

---

41

41

Jumlah

60

96

162

220






5.

SMA Terbuka Rupat,

Kabupaten Bengkalis, Riau

TKB1-SI=9km & 25 TKB2, 35 km

Kelas I

50

15

18

49

Kelas II

---

40

11

15

Kelas III

---

---

39

14

Jumlah

50

55

68

78






6.

SMA Terbuka Samarinda,

Kota Samarinda, Kaliman-

tan Timur

Kelas I

84

68

62

55

Kelas II

---

63

63

51

Kelas III

---

---

63

48

Jumlah

84

131

188

154






7.

SMA Terbuka Bungaro,

Kabupaten Pangkep,

Sulawesi Selatan

Kelas I

160

200

121

158

Kelas II

---

134

190

224

Kelas III

---

---

126

185

Jumlah

160

334

437

567






Sumber: Laporan dari masing-masing lokasi perintisan SMA Terbuka.

Berdasarkan Tabel 3 tersebut di atas, tingkat putus sekolah peserta didik SMA Terbuka selama 4 tahun masa perintisan berkisar rata-rata antara 13,46% sampai dengan 18,54%. Secara lebih rinci dapat dikemukakan sebagai berikut:

1) dari tahun 2002/03 ke tahun 2003/04, tingkat putus sekolah yang tertinggi adalah di SMA Terbuka Kepanjen-Malang, Jawa Timur, yaitu sebesar 31,67%. Sedangkan tingkat putus sekolah yang paling rendah terjadi di SMA Terbuka Leuwiliang-Bogor, Jawa Barat, yaitu sekitar 1,92%;

2) dari tahun 2003/04 ke tahun 2004/05, tingkat putus sekolah yang tertinggi adalah di SMA Terbuka Surabaya, Jawa Timur, yaitu sebesar 25,20%. Sedangkan tingkat putus sekolah yang paling rendah terjadi di SMA Terbuka Samarinda, Kalimantan Timur, yaitu sekitar 3,67%; dan

3) dari tahun 2004/05 ke tahun 2005/06, tingkat putus sekolah yang tertinggi adalah di SMA Terbuka Leuwiliang-Bogor, Jawa Barat, yaitu sebesar 27,07%. Sedangkan tingkat putus sekolah yang paling rendah terjadi di SMA Terbuka Bungaro-Pangkep, Sulawesi Selatan, yaitu sekitar 1,31%.

Untuk lebih memudahkan atau mempercepat membaca perkembangan keadaan putus sekolah pada ketujuh lokasi perintisan SMA Terbuka selama 4 tahun masa perintisan disajikan pada Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 4

Perkembangan Keadaan Tingkat Putus Sekolah pada SMA Terbuka

Selama 4 Tahun Masa Perintisan (2002/2003-2005/2006)

NO

NAMA SMA TERBUKA

PROSENTASE TINGKAT PUTUS SEKOLAH

RATA-RATA

(%)

2002/03-2003/04

2003/04-2004/05

2004/05-2005/06

1.

SMA Terbuka Leuwi-liang, Bogor

1,92

18,54

27,27

15,91

2.

SMA Terbuka Moga, Pemalang

23,93

15,81

15,06

18,27

3.

SMA Terbuka Kota Surabaya

11,02

25,20

12,35

16,19

4.

SMA Terbuka Kepanjen, Malang

31,67

10,91

2,32

14,97

5.

SMA Terbuka Rupat, Bengkalis

20.00

14,58

21,97

18,85

6.

SMA Terbuka Kota Samarinda

25.00

3,67

20,77

16,48

7.

SMA Terbuka Bungaro, Pankep

16,25

5,48

1,31

7,68

RATA-RATA (%)

18,54

7,59

14,43

15,457


Apabila dilihat data per lokasi perintisan SMA Terbuka yang disajikan pada Tabel 4 di atas, maka rata-rata tingkat putus sekolah yang tertinggi selama 4 tahun terjadi di SMA Terbuka Rupat-Bengkalis, yaitu 18,85%. Sedangkan Tingkat putus sekolah yang terrendah selama rentangan waktu yang sama terjadi di SMA Terbuka Bungaro-Pangkep, Sulawesi Selatan, yaitu 7,68%.

Selain, perkembangan keadaan peserta didik SMA Terbuka di 7 lokasi perintisan dari tahun 2002/2003 sd. 2004/2005 sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, maka pada Tabel 5 berikut ini akan disajikan data tentang jumlah kelas III SMA Terbuka pada tahun 2004/2005, jumlah peserta didik yang mendaftar mengikuti UAN, jumlah peserta didik peserta UAN, dan jumlah peserta didik yang lulus.

Tabel 5

Jumlah Peserta didik Kelas III, Jumlah Peserta UAN, dan Jumlah Peserta didik yang Lulus UAN selama Tahun Ajaran 2004/2005

NO

NAMA SMA TERBUKA

JUMLAH PESERTA DIDIK

KETERANGAN

KLS III

PESERTA UAN

LULUS

%

1.

SMA Terbuka Leuwiliang, Bogor, Jabar

117

90

86

95,55

27 peserta didik mengundurkan diri dengan berbagai alasan.

2

SMA Terbuka Samarinda,Kaltim

80

63

53

84,13

17 orang tidak mengikuti UAN

3

SMA Terbuka Rupat, Bengkalis,Riau

38

34

18

52,94

4 peserta didik mengundurkan diri karena usia.

4

SMA Terbuka Surabaya, Jatim

68

68

68

100,00

----

5

SMA Terbuka Kepanjen Malang

119

89

86

96,63

----

6

SMA TerbukaBungoro, PangkepSulsel

131

131

71

54,20

----

7

SMA TerbukaMoga, Pemalang,Jateng

118

101

61

60,40

17 orang tidak dapat mengikuti UAN

Sumber: Laporan dari 7 Lokasi Perintisan SMA Terbuka dalam Temu Karya SMA Terbuka yang dilaksanakan di Cisarua, 2005.

Berdasarkan Tabel 5 tersebut di atas tampaklah bahwa peserta didik kelas III SMA Terbuka yang mengikuti Ujian Nasional yang terbanyak jumlahnya adalah di SMA Terbuka Bungaro-Pangkep, Sulawesi Selatan, yaitu sebanyak 131 anak. Sedangkan jumlah peserta Ujian Nasional yang terkecil adalah di SMA Terbuka Rupat-Bengkalis, Riau, yaitu sebanyak 34 anak. Kemudian, jumlah peserta didik kelas III SMA Terbuka yang paling banyak tidak mengikuti Ujian Nasional karena berbagai alasan terjadi di SMA Terbuka Kepanjen-Malang, Jawa Timur. Sebaliknya, jumlah peserta didik kelas III SMA Terbuka yang semuanya mengikuti Ujian Nasional terjadi di SMA Terbuka Surabaya, Jawa Timur dan SMA Terbuka Bungaro-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Berkaitan dengan perkembangan jumlah peserta didik, maka jumlah peserta didik kelas I, II, dan III yang terbanyak pada tahun 2004/05 terjadi di SMA Terbuka Leuwiliang-Bogor, Jawa Barat, yaitu 603 anak dan yang paling sedikit jumlahnya terjadi di SMA Terbuka Rupat-Bengkalis, Riau, yaitu 68 anak. Sedangkan angka rata-rata putus sekolah yang tertinggi selama 4 tahun masa perintisan terjadi di SMA Terbuka Rupat-Bengkalis, Riau (18,85%) dan yang paling rendah terjadi di SMA Terbuka Bungaro-Pangkep, Sulawesi Selatan (7,68%). Kemudian, prosentase kelulusan yang tertinggi terjadi di SMA Terbuka Surabaya (100%) dan yang paling rendah terjadi di SMA Terbuka Bungaro-Pangkep, Sulawesi Selatan (54,20%).

b. Bahan Belajar

Sehubungan dengan telah digunakannya kurikulum 2004 secara bertahap, maka pengembangan bahan belajar untuk SMA Terbuka sesuai dengan kurikulum yang berlaku terus dilakukan. Sekalipun bahan belajar telah disesuaikan dan digunakan peserta didik, tidaklah berarti bahwa bahan-bahan belajar sebelumnya tidak dapat digunakan. Bahan belajar SMA Terbuka yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku terdiri atas bahan belajar modul, kaset audio, dan VCD.

c. Pelatihan Pengelola

Beberapa dari antara Guru Pamong, Guru Bina, dan Kepala Sekolah yang telah pernah dilatih mengenai konsep sistem belajar jarak jauh dan khususnya pengelolaan SMA Terbuka mengalami mutasi dan digantikan dengan guru dan Kepala Sekolah yang baru. Agar pengelolaan kegiatan pembelajaran di SMA Terbuka tetap dapat berjalan dengan baik, maka tenaga pengelola yang baru juga telah diberikan pelatihan. Selain itu, tenaga pengelola yang lama juga diberikan sejenis pelatihan penyegaran.

d. Pemantauan dan Pembinaan

Sebagai pihak yang merancang dan mengembangkan model/sistem SMA Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional melalui Pustekkom dan Ditdikmenum secara periodik melakukan kegiatan pemantauan dan pembinaan. Berbagai kesulitan/masalah yang dihadapi para pengelola di lapangan didiskusikan selama berlangsungnya kegiatan pemantauan dan pembinaan. Dengan demikian, pengelolaan penyelenggaraan SMA Terbuka semakin lebih baik dari waktu ke waktu.

e. Pembiayaan

Sejalan dengan semangat otonomi daerah, maka pengelolaan kegiatan pendidikan menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pendidikan. Berkaitan dengan aspek pembiayaan penyelenggaraan perintisan SMA Terbuka, maka Pustekkom telah melakukan pendekatan dengan masing-masing Pemerintah Daerah tempat perintisan SMA Terbuka. Mengingat SMA Terbuka masih pada tahap perintisan, maka belum sepenuhnya pengelolaan SMA Terbuka ditangani oleh Pemerintah Daerah. Tanggung jawab Pemerintah Pusat (baca: Depdiknas) masih tetap ada termasuk di bidang pembiayaan.

C. Simpulan dan Saran

1. Simpulan

Model/sistem pendidikan SMA Terbuka yang inovatif dan fleksibel telah memungkinkan para lulusan SMP/MTs atau yang sederajat yang “kurang beruntung untuk dapat belajar di SMA reguler” (karena berbagai kendala/keterbatasan) dan peserta didik putus sekolah pada pendidikan Sekolah Menengah melanjutkan pendidikannya ke SMA Terbuka. Peserta didik SMA Terbuka tidak diharuskan datang ke SMA reguler yang menjadi Sekolah Induk SMA Terbuka setiap hari tetapi cukup hanya sekali seminggu. Sedangkan kegiatan belajar sehari-harinya dilaksanakan peserta didik secara mandiri di TKB setelah mereka selesai bekerja membantu orangtua mencari nafkah. Yang dapat digunakan sebagai TKB adalah gedung SD, gedung SMP, atau gedung lainnya yang tidak dipakai pada sore hari dan lokasinya relatif terjangkau oleh semua peserta didik yang berada dalam satu rombongan belajar.

Selama masa perintisan, berbagai aspek tentang penyelenggaraan SMA Terbuka telah disempurnakan atau dilakukan penyesuaian, seperti: penyesuaian bahan-bahan belajar dengan kurikulum yang berlaku, pengembangan bahan belajar bahasa Inggris yang bersifat terpadu antara media cetak modul dengan kaset audio, pelatihan Guru Pamong dan Guru Bina yang baru, pengadaan bahan belajar yang berupa VCD, dan pengadaan fasilitas antena parabola dan monitor televisi serta alat pemutar VCD pada masing-masing SMA Terbuka. Dengan berbagai fasilitas tersebut di atas telah memungkinkan para peserta didik SMA Terbuka memanfaatkan berbagai sumber belajar termasuk program Televisi Edukasi (TVE) yang ditayangkan langsung melalui satelit dari Pustekkom sewaktu para peserta didik berada di Sekolah Induk.

2. Saran

Mengingat masih banyaknya jumlah lulusan SMP/MTs yang tidak melanjutkan pendidikannya ke SMA karena berbagai kendala/hambatan dan para peserta didik putus sekolah pada pendidikan sekolah menengah, maka disarankan kepada Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pendidikan untuk melakukan kajian tentang kemungkinan menerapkan model/sistem pendidikan SMA Terbuka sebagai pendidikan alternatif dalam memecahkan masalah pendidikan khususnya yang menyangkut perluasan layanan kesempatan memperoleh pendidikan sekolah menengah.

Mengingat perintisan SMA Terbuka telah berjalan selama tiga tahun dan sudah menghasilkan lulusan angkatan pertama, maka disarankan agar dilakukan suatu penelitian yang mengevaluasi penerapan model/sistem pendidikan SMA Terbuka sebelum dilakukan diseminasi bertahap ke daerah lainnya (evaluative study).

Apabila memungkinkan, model/sistem pendidikan SMA Terbuka dipublikasikan melalui koran sebagai suatu peluang untuk menyebarluaskan informasi secara terbuka sehingga publik mengetahui dan sekaligus juga dapat menjadikannya sebagai bahan kajian, baik oleh para pemerhati atau praktisi bidang pendidikan atau juga Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah yang menghadapi masalah keterbatasan/kendala dalam membelajarkan para anak usia sekolah menengah melalui jalur pendidikan SMA reguler dapat menerapkan model/ sistem pendidikan SMA Terbuka.


Kepustakaan

Badan Penelitian dan Pengembangan-Departemen Pendidikan Nasional. 1999. Statistik Pendidikan Sekolah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan-Departemen Pendidikan Nasional.

Badan Penelitian dan Pengembangan-Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Statistik Pendidikan Sekolah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan-Departemen Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Pengelolaan SMA Terbuka: Alternatif Layanan Pendidikan Menengah dengan Pola Pendidikan Jarak Jauh. Jakarta: Kerjasama Pustekkom dengan Direktorat Dikmenum- Departemen Pendidikan Nasional.

Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional. 1999. Survei Penjajagan Kebutuhan akan Pendidikan Sekolah Menengah tingkat Atas Terbuka (SMA Terbuka). Jakarta: Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional.

Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional. 2000. SMU Terbuka. Sekolah Menengah Umum Pola Pendidikan Terbuka. Sekolah Alternatif Membentuk Generasi yang Disiplin dan Mandiri. Bahan-bahan Lokakarya tentang Pendidikan Menengah Terbuka. Jakarta: Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional.

Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional. 2005. SMA Terbuka: Konsepsi dan Rencana Pengembangan, Pedoman Pengelolaan, dan Profil. Bahan Temu Karya Pengelola SMA Terbuka. Jakarta: Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional.

Siahaan, Sudirman. 2003. Studi tentang Pengelolaan Sekolah Menengah Umum Terbuka (SMU Terbuka). Jakarta: SEAMEO SEAMOLEC.

Siahaan, Sudirman dan Christanto, Indrayanti. 2000. Studi Kelayakan Penentuan Lokasi Sekolah Menengah Umum Pola Pendidikan Terbuka (SMU Terbuka). Jakarta: Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional.

Simanjuntak, WBP dan Sudirman Siahaan. 2002. “Studi tentang Pengelolaan Pendidikan Terbuka/Jarak Jauh di Era Otonomi Daerah”, hasil penelitian, disajikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran tentang Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumberdaya Manusia dengan Penerapan Teknologi Pembelajaran, kerjasama Pustekkom dengan UT, Universitas Negeri Jakarta, dan IPTPI, di Jakarta, pada tanggal 18-19 Juli 2002.

Siahaan, Sudirman. 2003. “Pendidikan Terbuka/Jarak Jauh: Teori dan Aplikasinya”, Makalah disajikan pada Seminar tentang Pendidikan Terbuka/Jarak Jauh, di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, 15-17 Oktober 2003.

“Studi Eksperimen tentang Pemanfaatan Internet untuk Kegiatan Belajar Remedial di Sekolah Menengah Umum di Jakarta”, bagian dari Buku Teknologi Pembelajaran: Peningkatan Kualitas Belajar melalui Teknologi Pembelajaran. Jakarta: PUSTEKKOM-DEPDIKNAS, Desember 2004.

-------------, 2005. Laporan Penyelenggaraan SMA Terbuka. Laporan dikirimkan oleh masing-masing SMA Terbuka.

2 komentar:

Ana mengatakan...

Maaf pak, apakah ada SMA terbuka di jakarta? Mohon informasinya ke afree_na@yahoo.com
Terima kasih banyak:)

Chip Phi Chip mengatakan...

Mohon informasi apakah SMA Terbuka sudah ada di wilayah kota Bogor? Terima kasih, pak Dirman.