Rabu, 09 Januari 2008

Strategi Meningkatkan Minat Baca

Strategi Meningkatkan Minat Baca: Menjadikan Membaca sebagai
Kebiasaan Hidup Sehari-hari
Sudirman Siahaan1) dan Rahmi Rivalina2)


ABSTRAK


Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) yang penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh setiap individu. Dengan membaca, kita akan mendapatkan banyak manfaat di antaranya mengetahui perkembangan yang terjadi, memenuhi kebutuhan intelektual, spiritual dan emosional. Melalui membaca aktivitas kita akan dapat mengetahui, memahami, menafsirkan, mengingat, dan menuliskan kembali suatu informasi berdasarkan analisis pikiran kita sendiri. Dengan banyak membaca berarti akan mambantu seseorang untuk melatih kemampuannya menuangkan suatu gagasan atau pesan terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakan ke dalam sebuah tulisan. Manfaat membaca ini ternyata belum dirasakan betul oleh sebagian besar bangsa kita. Beberapa publikasi cenderung mengemukakan minat dan kemampuan membaca bangsa kita rendah. Di sisi lain, membaca merupakan jendela untuk mendapatkan pengalaman, memperbaiki wawasan, dan mempertajam daya nalar. Itulah sebabnya kegiatan membaca harus dimulai sejak usia dini yang diawali dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu, gemar atau minat membaca haruslah ditumbuhkembangkan di kalangan masyarakat agar secara bertahap makin banyak masyarakat yang menjadikan kegiatan membaca menjadikan kebiasaan dan bahkan sebagai kebutuhan hidup sehari-hari. Kata-kata kunci: Membaca, informasi, media, pengetahuan. -----------------
1) Drs. Sudirman Siahaan, MPd adalah tenaga fungsional peneliti pada Pustekkom-Departemen Pendidikan Nasional.
2) Dra. Rahmi Rivalina, M.Hum adalah staf pada Pustekkom-Departemen Pendidikan Nasional.
A. Pendahuluan
Sebagai makhluk sosial dan berbudaya, manusia dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam segala hal, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Dalam kaitan ini, banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satu di antaranya adalah dengan belajar melalui membaca. Agama Islam menganjurkan agar "belajar dilakukan mulai dari ayunan sampai ke liang lahat". Pentingnya kegiatan belajar melalui membaca selaras dengan pepatah yang berbunyi "tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina". Ibarat gayung bersambut, Pemerintah telah mencanangkan kegiatan belajar sepanjang hayat (lifelong learning) yang dimulai dengan Wajib Belajar (Wajar) 6 Tahun pada tahun 1984. Kemudian dilanjutkan dengan Wajar 9 Tahun pada tahun 1994. Program ini akan dilanjutkan dengan Wajar 12 Tahun Tampaklah betapa penting dan strategisnya kegiatan membaca dalam pengembangan kualitas hidup manusia karena itu kegiatan membaca hendaknya diupayakan agar secara bertahap menjadi kebiasaan dan bahkan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat. Bila membaca sudah menjadi kebutuhan hidup sehari-hari, maka seseorang akan dapat dengan cepat mengetahui perkembangan yang terjadi. Selain itu, kegiatan membaca dapat mengisi waktu senggang sekaligus juga berfungsi memenuhi kebutuhan intelektual, spiritual dan emosional. Membaca juga dapat membawa seseorang ke suasana masa lalu, masa kini, masa depan dan menjadi alat berekreasi ke dunia lain. Dewasa ini, berbagai media cetak dan elektronik menyajikan beragam informasi yang melimpah kepada masyarakat luas sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangan yang terjadi (well-informed). Seseorang yang menguasai informasi akan menguasai berbagai aspek kehidupan. Kunci utama untuk menguasai informasi adalah membaca. Dengan banyak membaca, seseorang akan dapat mengakses berbagai informasi sehingga memiliki wawasan atau khasanah pengetahuan yang semakin luas dan sekaligus juga mengembangkan kemampuan kompetetif. Manfaat lain dari membaca adalah melatih kemampuan seseorang untuk menuangkan suatu gagasan atau pesan terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakan ke dalam sebuah tulisan. Dengan menyajikannya secara tertulis, maka pesan yang disampaikan dapat dibaca, diketahui, dan dipahami pembaca. Seseorang yang mengembangkan kebiasaan membaca, maka dampak dari kebiasaan membaca ini akan berpengaruh pada cara bernalar dan juga pada kemampuan untuk menulis. Dari penjelasan tentang penting dan strategisnya kegiatan membaca, maka yang dinilai lebih penting untuk dikaji adalah bagaimana menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan hidup sehari-hari setiap individu. Beberapa penelitian, baik yang dilakukan oleh lembaga penelitian maupun media masa tentang minat baca bangsa Indonesia, secara umum cenderung menunjukkan hasil yang rendah. Mengapa kemampuan, kebiasaan, dan minat baca bangsa Indonesia cenderung rendah? Apakah karena kesulitan menemukan buku yang tepat, harga buku yang dirasakan sangat mahal, kegiatan membaca masih belum merupakan kebutuhan hidup sehari-hari sebagaimana halnya akan sandang, pangan, dan rekreasi. Apakah keadaan yang demikian ini dipengaruhi oleh pesatnya kemajuan di bidang pertelevisian atau karena dunia kerja dan lembaga pendidikan yang kurang mengkondisikan berkembangnya kebutuhan akan buku sebagai sumber informasi. Tulisan ini mencoba membahas berbagai dampak tentang rendahnya minat baca masyarakat Indonesia dan mengidentifikasi pokok-pokok pikiran yang mungkin dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan minat baca.
B. Pembahasan
1. Mengapa Membaca itu Penting?
Manusia belajar melalui panca inderanya. Sebagai contoh, indera penglihatan digunakan untuk melihat suatu obyek. Obyek yang dilihat dapat berupa tulisan sehingga kita tahu artinya karena kita dapat membacanya. Obyek juga dapat berupa gambar sehingga kita dapat mendeskripsikan beberapa hal tentang gambar tersebut. Obyek yang kita lihat dapat pula berupa tayangan (video/siaran televisi). Untuk menikmati tayangan yang berupa video/siaran televisi, tidaklah lengkap jika kita hanya menggunakan indera penglihatan. Akan sangat jauh berbeda apabila kita secara stimulan menggunakan indera penglihatan dan pendengaran. Dalam kaitan ini, Marion Lawrence mengemukakan bahwa seorang anak hanya mampu mengingat 10% dari yang didengarnya, 50% dari yang dilihatnya, 70% dari yang dikatakannya, dan 90% dari yang dilakukannya (Wendyartaka, 2003). Membaca adalah salah satu cara belajar yang kelihatannya mudah tapi sulit untuk dikerjakan. Membaca merupakan sebuah aktivitas yang paling banyak memberdayakan indera lain secara bersamaan. Misalnya, ketika kita membaca buku dengan suara sedikit keras dan mengeluarkan bunyi, maka indera pendengaran akan mendengarkan dan kemudian otak mengoreksi bunyi yang keluar dari mulut. Pada waktu yang bersamaan, mata juga diharuskan untuk melihat apa yang tertera. Satu hal yang paling penting dari aktivitas tersebut adalah kemampuan otak merangsang indera-indera tersebut bekerja bersamaan. Otak berusaha untuk memahami apa yang telah kita baca dan seharusnya kita mengingat kembali apa yang telah kita baca tersebut. Untuk membantu memudahkan kita mengingat, ada baiknya kita membuat catatan sederhana atau berupa poin-poin penting tentang apa yang telah kita baca. Cara membaca seperti tersebut di atas merupakan salah satu cara belajar yang baik terutama untuk siswa (membaca, mendengar, menulis, dan mengingat kembali poin-poin yang telah dibaca). Memang benar bahwa dengan membaca, kita kemungkinan akan merasakan cepat lelah, karena membutuhkan konsentrasi yang penuh. Cepat lelah inilah yang sementara diduga menjadi faktor penyebab banyak orang menjadi kurang atau tidak menyukai kegiatan membaca. Berdasarkan jajak pendapat Kompas tentang buku yang diminati responden, Anung Wendyartaka mengemukakan bahwa sebagian besar responden lebih menyukai buku-buku fiksi, seperti novel dan buku sastra lainnya. Selain buku-buku fiksi, urutan selanjutnya yang diminati responden adalah buku agama dan buku ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Urutan buku yang diminati responden selanjutnya adalah komik, buku-buku panduan (how to), dan buku-buku non-fiksi lainnya, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. Melalui membaca, berbagai informasi yang tekah dan sedabf terjadi di berbagai belahan dunia dapat diketahui. Dengan banyak membaca, seseorang akan memiliki cakupan pengetahuan yang luas, kemampuam menganalisis berbagai masalah yang terjadi, kemampuan untuk melakukan antisipasi tentang hal-hal yang akan terjadi, dan kemampuan untuk melakukan klasifikasi terhadap berbagai hal yang simpang siur atau yang kurang benar.
2. Gambaran Singkat tentang Kebiasaan Membaca
Berbagai publikasi cenderung mengemukakan bahwa kemampuan dan minat baca bangsa Indonesia masih relatif rendah. Pernyataan ini sering dihubungkan dengan beberapa alasan di antaranya adalah pertumbuhan jumlah buku yang diterbitkan Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Demikian juga halnya dengan jumlah pengunjung toko-toko buku, baik untuk membeli maupun untuk sekedar melihat-lihat buku masih rendah meskipun berbagai toko buku berlokasi di pusat-pusat perbelanjaan (mall). Keadaan yang sama juga terjadi dengan pengunjung perpustakaan. Sedikit sekali jumlah orang yang menggunakan jasa perpustakaan untuk kepentingan pembelajaran. Sehubungan dengan perkembangan minat dan kemampuan membaca ini, Ki Supriyoko mengutip laporan World Bank di dalam "Education in Indonesia: From Crisis to Recovery" (Supriyoko, 1998) yang merujuk hasil studi Vincent Greanary, menyatakan bahwa kemampuan membaca siswa kelas VI SD Indonesia berada pada nilai 51,7 yaitu di urutan paling akhir setelah Filippina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hongkong (75,5). Penelitian Supriyoko di desa-desa Galesong, Bantaeng, Tamalatea, Bisapu, di provinsi Sulawesi Selatan mendukung hasil penelitian World Bank yang mengungkapkan bahwa dari 2.000 kasus, ada 30-an (1,5%) anak lulusan SD yang tidak lancar membaca. Sementara itu, Riana mengutip hasil penelitian International Educational Achievement (IEA) pada tahun 2000 yang menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia berada di urutan ke-38 dari 39 negara atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Selain itu, The Political and Economic Risk Country (PERC), lembaga konsultan di Singapura, pada akhir tahun 2001, mengungkapkan bahwa Indonesia dalam hal pendidikan berada di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti (Riana, 2003). Melihat paparan di atas, suka tidak suka, kita harus menerima bahwa kemampuan membaca siswa kita sangat rendah dibandingkan dangan siswa dari negara tetangga lainnya. Penelitian tersebut memang tidak menjelaskan lokasi penelitian. Bisa jadi salah satu penyebab rendahnya kemampuan membaca siswa Indonesia adalah karena masih banyak juga penduduk yang buta aksara. Misalnya di Jawa Barat, jumlah masyarakat buta aksara mencapai 1,8 juta orang dan di Banten mencapai 1,4 juta dari 8 juta warganya. Meskipun upaya pemerintah dalam menuntaskan buta aksara terus-menerus dilakukan sehingga persentase jumlah penduduk buta aksara setiap tahun cenderung menurun, namun kenyataannya masih ada 18,7 juta penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang buta aksara pada akhir tahun 2002 (Riana, 2003). Ada korelasi positif antara lingkungan buta aksara dengan kemampuan membaca anak. Di samping itu, kita juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa setiap tahun, ada 250 sampai dengan 300 ribu siswa kelas 1, 2, dan 3 SD yang putus sekolah (Riana, 2003). Kemampuan membaca yang rendah tidak hanya dijumpai di kalangan siswa tapi juga di kalangan masyarakat umum. Menurut Syafik Umar, kebiasaan membaca masyarakat yang rendah dapat diketahui dari jumlah surat kabar yang dikonsumsi masyarakat. Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi sepuluh orang (1:10). Tetapi di Indonesia, sebuah surat kabar rata-rata dibaca oleh 45 orang (1:45). Di Filippina, angkanya adalah 1:30, dan di Sri Lanka, rasionya adalah 1:38. Asumsi sementara adalah kemampuan dan minat baca yang rendah sangat erat hubungannya dengan budaya bangsa Indonesia yang mengembangkan tradisi lisan. (Pikiran Rakyat, 2004). Indikator lain tentang kebiasaan membaca yang rendah dapat dilihat dari kurangnya pengunjung perpustakaan. Perpustakaan terlihat sepi dari pengunjung bukanlah cerita baru. Pada umumnya, yang dijadikan sebagai alasan adalah ruang perpustakaan yang kurang menarik dan buku yang tersedia sangat terbatas, baik dari segi subyek maupun tahun terbit. Tampaknya membaca buku belum dirasakan sebagai suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Ada kecendrungan bahwa budaya mendengarkan, bertanya, dan berbicara lebih berkembang di kalangan masyarakat daripada membaca. Dalam kaitan ini, Dady P. Rachmanata, Kepala Perpustakaan Nasional, dengan merujuk tulisan Ki Supriyoko, mengemukakan bahwa pengunjung Perpustakaan Nasional dan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia relatif rendah dan hanya 10% s.d 20% dari jumlah pengunjung yang meminjam buku. (Supriyoko, 2003). Rendahnya jumlah pengunjung dan peminjam buku di perpustakaan dapat menjadi cerminan bahwa kebiasaan membaca bangsa Indonesia rendah. Sedangkan kualitas sebuah bangsa sering dihubungkan dengan tinggi-rendahnya angka kebiasaan membaca atau angka melek aksara (literacy rate) sebagaimana yang telah ditetapkan sebagai indikator oleh UNDP (United Nations Development Program). Di Indonesia, angka melek aksara baru mencapai 88%. Di Jepang, angkanya sudah mencapai 99%. Indeks pengembangan sumber daya manusia yang ditetapkan UNDP sebagaimana yang dikutip oleh Ki Supriyoko mengungkapkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 112 dari 174 negara. Di dalam daftar UNDP ini, Indonesia berada di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31) (Supriyoko, 2003). Sebaliknya, hasil jajak pendapat Kompas di 15 kota besar di Indonesia sebagimana yang dikutip Wendyartaka mengungkapkan bahwa lebih dari dua pertiga atau sekitar 70% dari jumlah responden 1.084 mempunyai kebiasaan membaca buku, minimal seminggu sekali. Responden yang mempunyai kebiasaan membaca buku setiap hari mencapai lebih dari seperempat atau sekitar 28%. Sementara itu, 35% responden lainnya meluangkan waktu membaca buku satu sampai tiga kali dalam seminggu. Kebiasaan membaca orang kota ternyata cukup menggembirakan, tidak seperti anggapan yang berkembang selama ini tentang minat baca bangsa Indonesia. Meskipun responden sudah mempunyai kebiasaan membaca buku tapi jumlah waktu yang digunakan untuk kegiatan membaca buku masih relatif kecil. Hanya sekitar 51% yang menghabiskan waktu kurang dari 1 jam setiap harinya untuk kegiatan membaca. Responden yang membaca buku antara satu sampai dengan dua jam per hari baru sekitar 39% (Wendyartaka, 2005).
3. Menjadikan Membaca sebagai Kebiasaan Hidup Sehari-hari
Membaca adalah sebuah proses linguistik. Untuk dapat membaca dengan baik, pembaca harus memahami sintaks serta semantik bahasa dan harus memikili pengetahuan tentang abjad dan memiliki kesadaran tentang aspek-aspek tertentu dari struktur linguistik bahasa. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dari paparan di atas yaitu, mengapa anak-anak mengalami gangguan membaca? Apa yang perlu dipersiapkan agar belajar membaca mendapatkan prioritas dalam pendidikan? Faktor-faktor apa saja yang kemungkinan dapat dijadikan pertimbangan untuk menumbuh-kembangkan minat dan kemampuan baca anak Indonesia? Bagaimana mempersiapkan anak-anak yang berada pada lingkungan masyarakat yang buta aksara? Bagaimana sekolah dapat mengindividualisasikan pengajarannya untuk anak-anak yang datang dari keluarga buta aksara atau dari rumah dengan dukungan yang sedikit atau buruk terhadap membaca? Berikut ini akan dicoba dibahas beberapa upaya untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan.
a. Keluarga Suka Membaca
Belajar membaca harus dimulai dari usia dini. Di rumah, anak harus mulai diperkenalkan dengan buku-buku yang relevan dengan usianya. Meskipun mereka belum bisa membaca tapi dapat mengajak mereka menyenangi buku dengan menceritakan dongeng melalui gambar-gambar yang ada di dalam buku. Ada baiknya juga bila suatu kali anak-anak diminta untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka ketahui atau dengarkan. Tujuannya adalah untuk melatih daya ingat anak. Bagi keluarga yang telah memiliki lingkungan membaca, maka menumbuh-kembangkan kebiasaan membaca tidak menjadi terlalu sulit. Tetapi, bagaimana dengan anak-anak dari di lingkungan keluarga yang buta aksara? Penelitian etnografik menunjukkan secara jelas bahwa kemiskinan bukan faktor penentu utama untuk persiapan baca-tulis yang diperoleh anak di rumah (Adams, 1990). Yang paling menentukan adalah kualitas kegiatan baca-tulisnya. Oleh karena itu, lingkungan yang miskin pun dapat mempersiapkan anak untuk belajar membaca di sekolah dengan baik selama mereka mempunyai buku untuk dibaca dan selama orangtua bersedia membacakan buku kepada anaknya. Tentu saja ini merupakan tantangan besar di negara-negara yang besar/tinggi jumlah orangtua yang buta aksara dan sedikit sekali buku yang tersedia. Perkembangan baca-tulis merupakan tugas nasional, yang akan mempengaruhi perkembangan ekonomi dan sosial negara. Tantangan terbesar dalam meningkatkan kemampuan baca-tulis tampaknya terletak pada kurangnya bahan bacaan yang tepat, baik di sekolah maupun di rumah, dan kurangnya jumlah buku khusus untuk anak anak. Kalaupun kemiskinan bukan merupakan faktor penentu utama kesiapan baca-tulis (Lyster, 2007) menemukan bahwa pendidikan ibu merupakan prediktor penting untuk perkembangan kemampuan membaca anak. Pengaruh Genetik pada tingkat tertentu menjadi bahan pertimbangan dalam penelitian Lyster, sehingga hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pendidikan ibu mungkin dapat menjadi bagian dari alat ukur konteks linguistik yang diciptakannya bagi anaknya. Bagaimanakah ibu yang berlatarbelakang berpendidikan lebih tinggi berkomunikasi secara linguistik dengan anaknya dibandingkan dengan ibu yang kurang berpendidikan? Apakah mereka membacakan buku untuk anaknya lebih sering atau dengan cara yang berbeda dari ibu yang kurang berpendidikan? Apakah pencegahan gangguan membaca sebaiknya dimulai secara tidak langsung dengan mendidik orangtua? Penelitian yang dilakukan oleh berbagai ahli, seperti: Whitehurst, Epstein, Angell, Payne, Crone dan Fischel sebagaimana yang dikutip oleh Lyster (Lyster, 2007) menunjukkan bahwa mendidik orangtua dari masyarakat sosio-ekonomi rendah tentang cara berinteraksi dengan anaknya pada saat mereka membacakan buku untuk mereka, berdampak positif terhadap perkembangan baca-tulis anak. Hasil penelitian lain sebagaimana yang ditulis Lyster menunjukkan bahwa tingkat melek aksara orangtua berperan penting dalam perkembangan membaca anak. Dalam kaitan ini, prediktor terkuat tentang kemampuan membaca dan pengetahuan kosa kata pada keluarga berpendapatan rendah adalah lingkungan melek aksara di rumah, pendidikan ibu, tingkat ekspektasi ibu terhadap pendidikan anaknya, dan pendidikan ayah (Lyster, 2007). Tinggi rendahnya minat ibu terhadap baca-tulis berkorelasi signifikan dengan perkembangan kemampuan membaca anak. Menurut Chall dan rekan-rekannya, sebagaimana yang dirujuk oleh Lyster (Lyster, 2007), ekspektasi orangtua dan minatnya terhadap aktivitas sekolah anaknya merupakan faktor terpenting, tidak hanya untuk perkembangan kemampuan membaca tetapi juga untuk perkembangan semua mata pelajaran sekolah. Ekspektasi dan keterlibatan orangtua dalam pekerjaan sekolah anaknya harus dimotivasi. Kurangnya dukungan dan keterlibatan orangtua dalam masalah sekolah anak lebih umum terjadi di negara-negara berkembang dan karenanya harus menjadi perhatian yang serius di beberapa negara. Bila seorang anak sudah mulai memasuki usia Sekolah Dasar, maka anak harus betul-betul merasakan bahwa lingkungan sekolah adalah lingkungan kedua sebagai tempat membaca setelah lingkungan rumah. Orangtua harus sering membantu anak dalam memahami bacaan, meminta anak kembali menjelaskan apa yang telah dibaca sehingga anak benar-benar dapat merasakan bahwa ia bisa membaca dan ini akan merangsang anak untuk mempunyai kepercayaan diri dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Di sisi lain, bagaimana dengan kondisi keluarga yang masih memikirkan sulitnya memenuhi kebutuhan makan? Sehari-harinya mereka hidup di jalan dan orangtua mereka bekerja. Bila sudah sampai di rumah, mereka langsung tidur dan tidak mengenal aktivitas yang harus dilakukan anak yang sekolah. Ada beberapa cara meningkatkan minat baca anak. Salah satu di antaranya adalah yang dimulai dari lingkungan rumah tangga atau keluarga. Dalam kaitan in, yang perlu dilakukan antara lain adalah (1) kebiasaan orangtua untuk membacakan cerita/dongeng yang ada di buku pada saat sebelum tidur atau sewaktu santai, (2) kebiasaan orangtua untuk mengisi waktu senggang atau santai di rumah dengan kegiatan membaca, (3) kebiasaan orangtua menghadiahkan buku sebagai kado ulang tahun anak, (4) kebiasaan orangtua membeli buku/majalah, (5) kebiasaan orangtua mengajak anak ke toko-toko dan pameran buku, (6) Kebiasaan orangtua menjadikan jam-jam tertentu sebagai waktu baca keluarga, dan 7) membiasakan membaca buku setiap hari. Waktu terbaik untuk mulai membiasakan anak bergaul dengan buku adalah pada masa usia sangat dini. Banyaknya pengalaman dengan bahasa lisan dan bahasa tulis, dari masa bayi hingga awal masa kanak-kanak, sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam membaca di masa-masa selanjutnya. Bahkan ketika anak belum dapat membaca, mereka belajar dari orang yang membaca untuk mereka. Kegiatan orangtua menurut Burns, Friffin, dan Snow sebagaimana yang dikutip Lyster mengemukakan bahwa membacakan buku kepada anaknya di rumah dilihat sebagai persiapan yang sangat penting bagi anak dalam menghadapi tantangan pengajaran membaca di sekolah. Persiapan ini akan sangat efektif bila orangtua melakukan tiga hal, yaitu: (1) mengembangkan teks, (2) merujuk pada pengalaman anak itu sendiri, dan (3) menyela kegiatan membaca dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan (Lyster, 2007).
b. Sekolah Membiasakan Siswa Membaca
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghadapi kesulitan terbesar dalam membaca di kelas-kelas rendah Sekolah Dasar (SD) adalah mereka yang mulai bersekolah dengan keterampilan verbal yang kurang tentang pemahaman fonologi, pengetahuan abjad yang kurang, dan pemahaman yang kurang tentang pentingnya membaca, dan cara-cara membaca sebagaimana yang dikutip oleh Lyster. Oleh karena itu, untuk mencegah anak mengalami resiko tinggi sulit membaca, maka perlu dilakukan pengayaan lingkungan pra-sekolah dan pengajaran yang baik di kelas-kelas rendah SD. Upaya-upaya yang demikian inilah yang dapat menjadi penentu keberhasilan di bidang membaca dan menulis. Tidak ada waktu sepenting tahun-tahun pertama masa kehidupan dan masa sekolah anak. Di berbagai negara dengan jumlah orangtua buta aksara yang tinggi dan mempunyai sedikit pengetahuan tentang cara terbaik mempersiapkan anaknya untuk belajar membaca di sekolah, maka sekolah menghadapi kesulitan atau tantangan besar untuk membelajarkan para anak didiknya. Bagaimana caranya agar anak dari keluarga yang buta aksara dapat dipersiapkan secara baik untuk sekolah sehingga mereka tidak terlalu sulit mengikuti pelajaran membaca? Atau bagaimana sekolah dapat mengindividualisasikan aksara huruf atau dari rumah dengan dukungan yang sedikit atau buruk terhadap kesiapan anak belajar membaca? Membaca berfungsi sebagai alat untuk belajar. Membaca adalah kegiatan yang mencakup 4 komponen, yaitu: pembaca, teks, strategi, dan kelancaran. Strategi adalah cara-cara yang digunakan pembaca untuk mencapai tujuan dalam membaca. Kelancaran ialah kemampuan seseorang membaca teks dengan kecepatan tertentu sehingga berhasil mencapai tingkat pemahaman yang cukup. Gabungan dari pembaca, teks, strategi, dan kelancaran inilah yang disebut membaca (Anderson, 2003). Guru dapat melakukan berbagai cara agar anak selalu membaca di sekolah. Untuk anak yang masih duduk di kelas 1 sampai dengan 3, mungkin mereka hanya dimintai untuk menceritakan dan menulis apa yang dilihat dan dirasakan pada waktu pergi ke sekolah. Sedangkan anak yang sudah kelas 4 dan 5, mereka sudah harus membaca buku tambahan di samping harus membaca buku pelajaran. Anak-anak sudah harus dijadwalkan untuk membaca buku-buku sastra, atau yang sesuai dengan minatnya. Kegiatan ini harus dilanjutkan ke kelas berikutnya dengan beban kegiatan yang disesuaikan agar anak-anak memiliki kemampuan memahami kehidupan dan perasaan orang lain. Peneliti sastra untuk anak internasional, Riris K. Toha Sarumpaet, mengatakan bahwa sastra adalah satu dunia yang menawarkan keutuhan yang dapat mengerakkan jiwa dan rasa, yang dapat mengubah manusia menjadi lebih halus dan peka. Setiap kitab dalam sastra menawarkan pesan moral. Moral itu terjalin menjadi jiwa cerita, menjadi nafas, ucapan, dan perilaku para tokohnya. "Itulah sebabnya, buku yang bernilai sastra selalu dapat memberikan ajaran yang baik yang dapat memperkaya batin manusia seperti yang dikutip oleh I Nyoman Suaka (Suaka, 2004). Para siswa yang ditugaskan membaca buku tambahan harus membuat ringkasan dan mampu menceritakan kembali di depan kelas apa yang mereka baca ataupun menjawab pertanyaan dari guru dan sesama siswa seputar isi buku yang dibaca. Bagi yang bisa menjawab atau menceritakan dengan baik, bakal dapat "stamp" di bagian belakang buku harian anak yang memang disediakan untuk catatan buku yang sudah dibaca. Di akhir semester, diumumkan 10 anak pembaca buku terbanyak dan mereka akan dapat hadiah. Cara ini terbukti efektif sekali memancing minat baca anak-anak sehingga mendorong anak-anak berlomba membaca utk mendapatkan sebuah "stamp". Sehubungan dengan hal tersebut di atas, para siswa bisa berlatih menulis bagaimana caranya membuat ringkasan dan bercerita di depan teman-temannya. Dengan cara ini, sengaja atau tidak, atau warung internet anak-anak akan mengunjungi perpustakaan sekolah, perpustakaan umum untuk mencari berbagai referensi baru untuk mereka baca. Perpustakaan sebagai jantung sekolah dengan koleksi buku yang ada akan terasa sangat bermanfaat. Upaya yang demikian ini merupakan motivasi yang menjadi langkah awal positif untuk menggerakkan kemauan siswa untuk membaca. Pada saat anak-anak menunggu pembagian rapor, kegiatan sekolah akan dapat bertambah misalnya dengan menyelenggarakan lomba membuat ringkasan buku dan lomba menceritakan kembali apa yang telah dibaca. Bedah buku merupakan salah satu kegiatan yang dapat mengkondisikan para siswa untuk membaca buku. Guru menentukan buku yang akan dibahas, siswa yang akan menyajikan pendapatnya tentang buku yang akan dibahas, dan siswa yang akan menyampaikan komentar terhadap buku yang dibahas. Kerjasama antara orangtua dan guru dalam mengkondisikan agar anak gemar membaca perlu ditingkatkan. Di sekolah, peran guru sangat besar dan menentukan agar anak gemar membaca. Guru dapat memulai atau melanjutkan upaya membiasakan para siswa membaca melalui berbagai kegiatan sebagai pengisi waktu luang. Ada dugaan bila kebutuhan emosional seorang anak bisa terpenuhi maka diharapkan tawuran dan kenakalan remaja bisa berkurang.
c. Kampanye Pentingnya Kebiasaan Membaca
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengkampanyekan pentingnya membaca. Beberapa di antara upaya kegiatan kampanye (sosialisasi) peningkatan minat baca masyarakat adalah: (1) pada tanggal 5 Maret 2004, presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan secara serentak 50 rumah baca yang tersebar di seluruh Indonesia dengan kegiatan yang dipusatkan di Rumah Baca Pesisir di Kompleks SDN Pesisir Lama I, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan ini menandai dimulainya "gerakan" membaca masyarakat di rumah-rumah baca yang dibangun pemerintah (2) penyelenggaraan Hari Buku, (3) Hari Kunjung Perpustakaan, dan kegiatan-kegiatan lain yang mengarah pada pengembangan minat baca dilakukan secara rutin setiap tahun. Sosialisasi dan koordinasi kegiatan serupa kembali digelar di kantor Gubernur Bali, oleh Kepala Perpustakaan Nasional, Dody P. Rachmanta, dengan tema ''Tingkatkan Minat Baca, Biasakan Beri Buku bukan Materi'' (Suaka, 2004). Penggunaan media masa cetak dan elektronik untuk mengkampanyekan pentingnya kegiatan membaca. Dengan filler yang ditayangkan berulang-ulang di media TV diharapkan akan dapat mendorong masyarakat untuk membiasakan diri membaca. Kampanye melalui melalui media masa hendaknya dilanjutkan dengan berbagai upaya konkrit, misalnya: mendorong masysrakat untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pada tingkat Kelurahan/Desa dan jika perlu sampai ke tingkat RT/RW. Dalam hal ini, peran Pemerintah sangat diperlukan. Di samping itu, berbagai pusat-pusat perbelanjaan "diwajibkan untuk mendirikan pojok baca". Para pengunjung dapat menggunakan pojok-pojok baca ini sewaktu mengunjungi pusat perbelanjaan. Pemberian penghargaan kepada Desa/Kelurahan yang berhasil menggerakan warganya untuk gemar membaca melalui Taman Bacaan Masyarakat. Desa/ Kelurahan yang warganya gemar membaca melalui Taman Bacaan Masyarakat perlu diisi dengan bahan bacaan berupa buku, majalah, koran, komik melalui penggalangan prakarsa masyarakat, menjalin kerjasama dengan berbagai penerbit dan perpustakaan.
C. PENUTUP
1. Simpulan
Kegiatan membaca sangat penting dan strategis dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan global yang kompetitif. Itulah sebabnya mengapa kebiasaan membaca dimulai dari lingkungan keluarga dengan melakukan berbagai kegiatan, seperti membacakan buku, menyediakan buku-buku bergambar, mengajak anak ke toko buku dan pameran buku, dan menghadiahkan buku sebagai kado ulang tahun. Kemudian, kegiatan membaca yang telah dimulai di lingkungan keluarga dilanjutkan oleh guru di sekolah melalui penugasan membaca buku secara teratur. Kegiatan yang demikian ini dimaksudkan untuk membiasakan siswa membaca. Caranya dapat saja melalui wajib penugasan baca buku dan presentasi, atau bedah buku. Selain itu, sosialisasi tentang pentingnya kegiatan membaca melalui berbagai media massa menjadi kondisi yang akan dapat menumbuhkembangkan kegemaran membaca masyarakat. Upaya yang sama yang telah dilakukan melalui pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) secara bertahap akan dapat juga menumbuhkembangkan kebiasaan masyarakat membaca. Pada akhirnya, berbagai upaya yang dilakukan, baik secara mikro di lingkungan keluarga maupun makro oleh pemerintah dan masyarakat tentunya akan dapat menjadikan kebiasaan membaca sebagai salah satu kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.
2. Saran-saran
Dari beberapa kesimpulan tersebut di atas, peran orangtua sangat menentukan dalam menumbuhkembangkan kegemaran membaca bagi anak-anak. Karena itu, para orangtua disarankan untuk menjadi model yang mempraktekkan kebiasaan membaca di keluarga. Acara "Keluarga Membaca Bersama" perlu dilakukan orangtua agar kegemaran membaca anak dapat tumbuh dan berkembang. Perlu dilakukan penelitian tentang minat atau kebiasaan membaca masyarakat pada umumnya dan para siswa khususnya untuk mengetahui perkembangan minat baca masyarakat Indonesia. Di samping penelitian, dipandang perlu menggerakkan masyarakat untuk menyadari pentingnya kebiasaan membaca. Berbagai bentuk kegiatan dapat dilakukan, misalnya: lomba membaca cepat, bedah buku, story telling atau membuka taman-taman bacaan di tempat-tempat keramaian atau pusat-pusat perbelanjaan, pemberian penghargaan kepada desa/ kelurahan maupun individu-individu yang telah memperlihatkan dedikasinya di bidang pengembangan kebiasaan membaca masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Adams, M.J. (1990). "Beginning to read: Thanking and Learning about Print" dalam Solveig-Alma H. Lyster, Bahasa dan Membaca: Perkembangan dan Kesulitannya (sumber dari internet yang diakses pada Juni 2007: http://www.idp-europe.org/indonesia/buku-inklusi/Bahasa dan_Membaca.php).
Anderson, Neil. (2003). "Reading" dalam David Nunan (ed.): Practical English Language Teaching Reading. New York: McGraw Hall.
Anung, Wendyartaka. (2005). "Minat Baca Masyarakat terhadap Daya Beli" dalam Harian Umum Kompas, Sabtu, 19 Februari 2005 Lyster, Solveig-Alma H. Bahasa dan Membaca: Perkembangan dan kesulitannya. <http://www.idp-europe.org/indonesia/buku-inklusi/Bahasa_dan_Membaca.php>
Riana, Deny. (2003). "Perpustakaan, Buku, dan Minat Baca" dalam Harian Umum Republika, 24 Januari 2003.
Simbolon, Tony. (2006). Berbudaya Baca Menuju Insan Cerdas, Pintar, Terampil dan Bermoral (tidak diterbitkan).
Stanovich, K.E. (1980). "Toward An Interactive Compensatory Model of Individual Differences in The Development of Reading Fluency" dalam Reading Research Quarterly, 16: 32-71.
Suaka, I Nyoman. (2004). "Sumbangan Sastra terhadap Minat Baca" dalam Bali Post, 12 Desember 2004.
Umar, Syafik. (2004). "Minat Baca di Indonesia Sangat Rendah" dalam Harian Pikiran Rakyat, 08 Maret 2004. Supriyoko, Ki. (2003). "Minat Baca dan Kualitas Bangsa" dalam Harian Umum Pikiran Rakyat, 23 Maret 2003.




bila menghendaki artikel selengkapnya silakan menghubungi email: pakdirman@yahoo.com

2 komentar:

adi kurniawan mengatakan...

maaf gan saya copy artikelnya sebagai bahan referensi...
terimakasih banyak yah gan.

adi kurniawan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.